Enemers, tiap- tiap provinsi di Indonesia memiliki fauna identitas yang mencerminkan keberagaman hayati di daerahnya. Jenis Fauna dipilih berdasarkan data bahwa fauna tersebut merupakan endemik di provinsi tertentu, khas provinsi tertentu atau merupakan komoditi andalan provinsi tertentu1). Pada kesempatan kali ini, enemkabeh akan mengangkat topik fauna identitas di enam provinsi yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia.
1. Provinsi Banten – Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)
Badak jawa, atau badak bercula-satu kecil (Rhinoceros sondaicus) adalah anggota famili Rhinocerotidae dan satu dari lima jenis badak yang masih ada. Badak ini masuk ke genus yang sama dengan badak india serta memiliki kulit bermosaik yang menyerupai baju baja. Jenis badak ini memiliki panjang 3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m. Tubuhnya lebih kecil daripada badak india dan lebih mirip ukurannya dengan badak hitam. Ukuran culanya biasanya lebih sedikit daripada 20 cm, lebih kecil daripada cula spesies badak lainnya.
Badak ini pernah menjadi salah satu badak di Asia yang paling banyak tersebar. Meski disebut "badak jawa", binatang ini tidak terbatas hidup di Pulau Jawa saja, tapi di seluruh Nusantara, sepanjang Asia Tenggara dan di India serta Tiongkok. Spesies ini kini statusnya sangat kritis, dengan hanya sedikit populasi yang ditemukan di alam bebas, dan tidak ada di kebun binatang. Badak ini kemungkinan adalah mamalia terlangka di bumi.2) Saat ini (2015), populasinya tinggal 40-50 badak hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa, Indonesia.
2. DKI Jakarta – Elang Bondol (Haliastur indus)
Elang bondol memiliki ukuran 43-51 cm, sayap yang lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Bagian kepala, leher dan dada berwarna putih, sisanya berwarna merah bata pucat, bagian ujung bulu primer berwarna hitam, dan tungkai berwarna kuning. Warna pada anaknya, secara keseluruhan berwarna coklat gelap, pada beberapa bagian bergaris-garis putih mengkilap. Jenis elang ini tersebar tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di India, Cina selatan, Asia tenggara, dan Australia. Di Indonesia sendiri, penyebaran nya ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua. Pada umumnya, baik di Indonesia maupun India, burung ini dapat ditemukan di daerah pedalaman. sedangkan di Kalimantan, elang bondol dapat di temui di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Habitat terbaik untuk elang bondol adalah area tepi laut yang berlumpur seperti hutan mangrove, muara sungai, dan pesisir pantai. Burung ini juga dapat ditemukan di lahan basah seperti sawah dan rawa 3).
3. Jawa Barat – Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas)
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) atau macan kumbang adalah salah satu subspesies dari macan tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi Pulau Jawa, Indonesia. Macan tutul ini memiliki dua variasi warna kulit yaitu berwarna terang (oranye) dan hitam (macan kumbang). Macan tutul jawa adalah satwa indentitas Provinsi Jawa Barat.
Dibandingkan dengan macan tutul lainnya, macan tutul jawa berukuran paling kecil, dan mempunyai indera penglihatan dan penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang sangat membantu dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.
Sebagian besar populasi macan tutul dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, meskipun di semua taman nasional di Jawa dilaporkan pernah ditemukan hewan ini, mulai dari Ujung Kulon hingga Baluran 4).
4. Jawa Tengah – Kepodang Emas (Oriolus chinensis)
Kepodang emas (Oriolus chinensis) atau kepudang kapas adalah spesies burung dari keluarga Oriolidae, dari genus Oriolus. Burung ini memiliki habitat di hutan terbuka, hutan sekunder, hutan mangrove, perkebunan, pedesaan, tersebar sampai ketinggian 1.600 mdpl. Burung kepudang kuduk-hitam dikenal dalam budaya Jawa, khususnya Jawa Tengah. Spesies ini dijadikan fauna identitas Jawa Tengah. Burung ini juga sering dipergunakan untuk tradisi mitoni (tradisi tujuh bulan kehamilan). Kepudang ini mendapat banyak sebutan dari masyarakat nusantara, yaitu bincarung (Sunda), gantialuh (oleh beberapa daerah di Sumatra) dan gulalahe (masyarakat Sulawesi) 5).
5. DI Yogyakarta – Perkutut (Geopelia striata)
Perkutut jawa (Geopelia striata) adalah spesies burung dalam suku Columbidae, dari genus Geopelia. Burung ini merupakan jenis burung pemakan biji-bijian dan serangga. Perkutut jawa memiliki tubuh berukuran kecil (21 cm). Tubuh ramping, ekor panjang. Kepala abu-abu, leher dan bagian sisi bergaris halus, punggung coklat dengan tepi hitam. Bulu sisi terluar ekor kehitaman dengan ujung putih. Iris dan paruh abu-abu biru, kaki merah jambu tua. Hidup berpasangan atau kelompok kecil. Makan di permukaan tanah. Kadang berkumpul untuk minum di sumber air. Sarang berbentuk datar tipis dari ranting-ranting. Telur berwarna putih, jumlah 2 butir. Berbiak bulan Januari-September 6).
Suara perkutut jawa relatif kecil dan tipis jika di bandingkan dengan jenis perkutut thailand atau acapkali di sebut dengan perkutut bangkok.
6. Jawa Timur – Ayam Bekisar (Gallus varius dan Gallus gallus)
Ayam bekisar adalah hasil perkawinan antara ayam hutan hijau jantan (Gallus varius) dan ayam kampung/ayam buras betina (Gallus gallus domesticus).
Ada tiga tipe ayam bekisar, yaitu :
- Gallus aenus yang berjengger bergerigi 8 kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas.
- Gallus temminckii memiliki jengger bergerigi enam, pial berwarna jambu, bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.
- Gallus violaceus dengan jengger bergerigi bagus, ukuran pial sedang, warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus.
Ayam bekisar memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ukuran ayam kampung jantan, tetapi lebih besar daripada induk jantannya. Warna bulunya hitam kehijauan dan mengkilap. Memiliki suara yang halus dan khas: tersusun dari dua nada.
Ayam bekisar, karena ia hasil persilangan antara dua jenis yang berbeda, biasanya mandul. Namun, tidak semuanya demikian. Ada pula ayam bekisar (jantan atau betina) yang bila dikawinkan dengan ayam kampung menghasilkan keturunan.7).
Demikian enemers, semoga bermanfaat
Referensi:
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_fauna_identitas_provinsi_di_Indonesia (diakses 5 November 2015)
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Badak_jawa (diakses 5 November 2015)
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Elang_bondol (diakses 5 November 2015)
4. https://id.wikipedia.org/wiki/Macan_tutul_jawa (diakses 5 November 2015)
5. https://id.wikipedia.org/wiki/Kepodang (diakses 5 November 2015)
6. https://id.wikipedia.org/wiki/Geopelia_striata (diakses 5 November 2015)
7. https://id.wikipedia.org/wiki/Ayam_bekisar (diakses 5 November 2015)
No comments:
Post a Comment