Kali ini enemkabeh akan mempersembahkan enam kutipan pilihan dari tokoh Indonesia. Masing-masing kutipan akan disertai dengan cerita mengenai asal-muasal munculnya kalimat tersebut, dan atau cerita tentang tokohnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, jadi, mari enemers kita jadikan kutipan berikut sebagai sarana untuk belajar dan instropeksi.
1. Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik en de allereerste plaats Javaan (Hamengkubuwono IX, 1940)
(Meski saya telah mengikuti pendidikan Barat, tetapi pertama tama saya adalah dan tetap orang Jawa – terj)
Kalimat tersebut merupakan kutipan pidato Hamengkubuwono IX saat dinobatkan sebagai Sultan dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Artinya sungguh mendalam enemers, beliau menegaskan bahwa walaupun kita sudah mengenyam pendidikan modern (barat), akan tetapi kita tidak boleh melupakan jati diri kita. Pidato tersebut sangat mengejutkan Gubernur Yogyakarta saat itu, Lucien Adam, yang ikut menghadiri upacara penobatan.
Pidato lengkapnya adalah sebagai berikut:
“Dat de taak die op mij rust, moeliilijk en zwaar is, daar ben ik mij tenvolle van bewust, vooral waar het hier gaat de Westerse en de Oosterse geest tot elkaar te brengen, deze beide tot een harmonische samenwerking te doen overgaan zonder de laatste haar karakter doen verliezen. Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik en de allereerste plaats Javaan. Zo zal de adat, zo dese niet remmend werkt op de onwikkeling, een voorname plaatz blijven innemen in de traditierijke Keraton”.
Moge ik eindigen met de belofte dat ik de belangen van Land en Volk zal behartigen naar mijn beste weten en kunnen. 1)
terjemahannya:
“Sepenuhnya saya menyadari bahwa tugas yang ada di pundak saya adalah sulit dan berat, terlebih karena ini menyangkut memertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerjasama dalam suasana harmonis, tanpa yang Timur harus kehilangan kepribadiannya. Meski saya telah mengikuti pendidikan Barat, tetapi pertama tama saya adalah dan tetap orang Jawa. Sepanjang tidak menghambat kemajuan, maka adat akan selalu menduduki tempat utama dalam Keraton yang mewarisi tradisi tersebut.
Izinkan saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji, semoga saya dapat bekerja untuk memenuhi kepentingan Nusa dan Bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya”
2. Leiden is lijden (Kasman Singodimedjo, 1925)
Memimpin adalah jalan yang menderita
Lengkapnya adalah “Een leidersweg is een lij- densweg. Leiden is lijden”.
Terjemahannya “Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita”.
Perkataan Kasman tersebut terucap saat mengunjungi KH Agus Salim di rumahnya. Hal ini untuk menggambarkan kondisi kehidupan Agus Salim yang lekat dengan penderitaan dan kesahajaan.
Mohammad Roem yang sering bertandang ke rumah Salim menceritakan, bahwa rumahnya di Tanah Tinggi – Jakarta Pusat, berada di kawasan becek. Ia juga pernah tinggal di Jatinegara, yang mana keluarga Salim hanya menempati satu ruangan. Di rumah itu, Roem melihat koper-koper bertumpuk di pinggir ruang dan beberapa kasur digulung. Meski sudah menjabat sebagai menteri luar negeri, Salim dan keluarganya masih tinggal di rumah kontrakan.
Akan tetapi, pada kenyataannya apa yang dikatakan Kasman sesungguhnya menimpa semua tokoh pergerakan. Hanya saja setelah kemerdekaan, diantaranya ada yang tetap bertahan dengan idealismenya dan ada juga yang lupa daratan 2).
3. Look at that map. All the green (area) is Indonesia. And that red dot is Singapore. (BJ. Habibie, 1999)
Lihatlah peta itu. Wilayah hijau yang luas itu adalah Indonesia. Sedangkan titik kecil berwarna merah itu adalah Singapura.
Ucapan tersebut menunjukan sikap BJ Habibie terhadap Singapura pada waktu itu. Beliau mengucapkan kalimat tersebut untuk mengingatkan akan posisi Singapura yang “kecil” dibandingkan dengan Indonesia. Kekesalan Habibie tidak hanya karena persoalan pribadi (PM Singapura Lee Kuan Yew menyampaikan keberatan saat BJ Habibie ditunjuk sebagai Wakil Presiden RI) akan tetapi juga karena sikap Singapura yang kurang bersahabat dengan Indonesia di saat krisis moneter menghantam tahun 1998. Diantara sikap tersebut adalah bantuan moneter yang diiringi dengan syarat yang tidak disetujui Indonesia, serta penolakan atas permintaan Indonesia untuk mengembalikan pelaku kriminal penyebab krisis moneter yang lari ke Singapura3).
4. Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya, dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya. (Soekarno, 1956)
Kalimat tersebut diucapkan ketika menyematkan bintang sakti kepada dua orang perwira, yaitu Mayor Benny Moerdani dari RPKAD dan Mayor Untung bin Sjamsuri dari Banteng Raiders4). Ucapan beliau masihlah sangat sesuai sampai dengan saat ini. Ada banyak orang yang berlomba-lomba membuat pencitraan lewat media massa akan kebaikan-kebaikannya, supaya dikenal oleh masyarakat luas.
5. Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah, Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zonder (dengan atau tanpa) Pemerintah, TNI akan berjuang terus (Soedirman, 1948).
Kalimat tersebut diucapkan Jenderal Soedirman dalam rapat kabinet terakhir sebelum kedatangan pasukan Belanda di Yogyakarta. Pada saat itu, Bung Karno menyarankan Soedirman untuk tetap menjalani perawatan di Yogyakarta karena kondisinya yang sangat lemah, mengingat pada waktu itu paru-paru beliau tinggal satu yang berfungsi5). Akan tetapi mengingat bahwa kejatuhan Ibukota Yogyakarta tinggal menunggu waktu, dan para pemimpin Indonesia yang terjebak di Ibukota berniat untuk tetap tinggal, maka Jenderal Soedirman memutuskan untuk tetap memimpin Gerilya, supaya moral TNI tidak runtuh dan bisa menunjukan ke Dunia jika Indonesia masih ada.
6. Right or Wrong My Country, jika tahu Negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru saat itu pula kita wajib memperbaikinya (Prof Soeharso).
Kalimat yang sangat tajam, kesalahan suatu organisasi apapun belum tentu harus disikapi dengan pembubaran, akan tetapi apabila masih memungkinkan kitalah yang memperbaikinya supaya organisasi tersebut menjadi baik.
Prof Soeharso merupakan salah satu pahlawan nasional yang berjasa di bidang kedokteran. Beliau turut mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) untuk merawat para pejuang yang terluka. Karena begitu banyaknya pejuang yang kehilangan anggota tubuh, beliau berinisiatif membuat orthosa (perangkat orthopedi untuk megakan tubuh) dan protesa (anggota tubuh palsu)6).
Demikian enemers, kutipan tokoh indonesia versi enemkabeh. Semoga bermanfaat
Referensi:
1. Mochtar, K., 1982, “Tahta untuk Rakyat : Naik Tahta”, Gramedia, Jakarta
2. Roem M., 1978, “Memimpin adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim, Manusia dalam Kemelut Sejarah”, LP3ES, Jakarta
3. Bresnan, J., 2005,” Indonesia: The Great Transition”, Rowman and Littlefield
4. https://id.wikiquote.org/wiki/Sukarno (diakses tanggal 29 Oktober 2015)
5. Montefiore, S.S., 2006, “Speeches that Changed the World: The Story and Transcript of the Moments that Made History”, Cambridge Editorial Partnership
6. Hakim, A.F dan Priatna A., 2013, “Nama dan Kisah Pahlawan Indonesia”, Anakkita
No comments:
Post a Comment