Friday, October 23, 2015

6 Cerita Tentang Kopi

shutterstock_125466521 kopi-indonesia1

Siapa yang tidak kenal dengan kopi? Yup benar enemers, minuman berwarna hitam itu, yang membikin mata betah melek semaleman. Kopi telah menjadi teman bagi semua kalangan, dari mahasiswa yang sedang ngelembur tugas kuliah, bisnismen di coffeshop sampai dengan rakyat biasa untuk sekedar teman bersantai.

Rekan-rekan semua, ternyata Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar lho, tepatnya nomer tiga setelah Brasil dan Kolombia 1). Bahkan, Indonesia sudah diakui sebagai penghasil untuk bijih kopi robusta terbesar di dunia. Kopi di indonesia dikenal sejak zaman Belanda, akibat kebijakan Cultuurstelsel atau yang biasa kita kenal sebagai Tanam Paksa (tahun 1830-1870 M).

1. Asal Kata Kopi

Asal mula kata kopi ternyata panjang sejarahnya rekan-rekan semua. Kata kopi berasal dari bahasa Belanda “Koffie” … mmm … jadi ingat dengan salah satu merek kopi instan di Indonesia nih … ups. Sedangkan “Koffie” sendiri diturunkan dari kata “Kahve” yang berupakan kosakata bahasa Turki … dan … ”Kahve” diturunkan dari bahasa arab “Qahwah”. Nah, “Qahwah” sendiri pada awalnya merujuk pada salah satu jenis minuman anggur (Wine), dan masih diperdebatkan apakah berasal dari kata “Qaha” (penunda lapar), “Quwwa” (kekuatan) ataukah “Kaffa” (kerajaan di Ethiopia zaman abad pertengahan, yang diyakini sebagai asal mula Kopi) 2).

Mmmm … mungkin ini asal muasalnya Kopi dijuluki sebagai “The Wine of Islam”.

2. Kopi Awalnya Dimakan, Bukan Diminum

Legenda yang beredar menyebutkan bahwa penggembala di Ethiopia pertama kali mengetahui efek dari kafein saat mereka melihat kambing gembalaannya menjadi lincah dan seakan-akan menari setelah memakan buah kopi. Pada mulanya kopi dimakan lho, bukan diminum. Suku-suku afrika mencampurkan buah kopi dengan lemak sehingga menghasilkan bola energi.

3. Kopi di Dunia Islam

coffeehouse Orientalischer Mokka

Nah, minuman kopi baru dikenal saat seorang sheikh yang bernama Omar diusir dari Mekah, kemudian beliau dalam kondisi kelaparan di gunung menemukan buah kopi. Buah tersebut dimakannya, akan tetapi terlalu keras, beliau kemudian merebusnya…ternyata baunya sungguh menarik. Pada saat kondisi politik di Mekah berubah, syeikh Omar kembali dan sekaligus membawa temuan minuman kopi tersebut. Kopi semakin populer di kalangan umat muslim, hal tersebut terutama karena sangat membantu terjaga pada saat mereka melakukan kegiatan dzikir di malam hari. 3) Pada tahun 1500, kopi menyebar ke Kesultanan Mameluk di Mesir dan Afrika Utara dari pelabuhan Mocha di Yaman (mmm… membaca Mocha jadi ingat dengan salah satu cara menyajikan kopi hehe…). Dan akhirnya, meluas penyebarannya di wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani dan Kesultanan Safavi.

4. Kopi di Dunia Kristen

Kopi di bawa ke dunia kristen pada awalnya oleh pedagang Italia selepas berkunjung ke timur tengah, terutama bangsa Venezia. Akan tetapi, kepoleran kopi di kalangan muslim sempat membuat para pemangku agama Kristen menghambat peredaran kopi. Bahkan mereka menjuluki kopi dengan istilah “Bitter invention of Satan” dan “wine of Islam”. Baru pada masa Paus Clement VIII, masalah ini di selesaikan. Sekitar tahun 1600, beliau mencoba secangkir kopi dan menyatakan bahwa “minuman setan ini sangat nikmat” 4). Semenjak itu, kopi menyebar dengan cepat ke seluruh wilayah italia dan kemudian dibawa pedagang ke Jerman, Belanda dan Inggris.

5. Kopi di Hindia Belanda

Kopi sangat digemari di Eropa, harganya pun sangat menarik, sehingga Negara-negara di eropa berlomba untuk mendapatkan pohon kopi hidup. Belanda lah yang pertama kali berhasil menumbuhkan pohon kopi jenis Arabica di Amsterdam tahun 1616 M. Pieter van der Broecke berhasil mendapatkan biji kopi dari Mocha dan membawanya dengan penjagaan ketat. Pada awalnya Belanda membuka perkebunan kopi di Sri Lanka pada tahun 1658, akan tetapi kemudian lebih fokus mengembangkan di pulau Jawa 2).

voc aroma-of-heaven_20150411_113123

Nicholas Witsen (Anggota Dewan VOC*) mendorong Joan van Hoorn (Gubernur Jenderal Belanda di Batavia) untuk menanam kopi di Hindia Belanda. Proyek tersebut sangatlah berhasil, sehingga VOC sanggup memenuhi kebutuhan kopi Eropa dengan “Java Coffee” di tahun 1719. Keberhasilan tersebut membuat VOC membuka perkebunan kopi lain di Sumatera dan Sunda.

Ekspor kopi Hindia Belanda pertama kali dilakukan pada tahun 1711 oleh VOC dan merupakan perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia. Kopi Jawa saat itu sangat terkenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan “a cup of Java”. Sampai pertengahan abad ke 19 Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia …. jadi jangan heran kalau simbol program populer “Java” adalah secangkir kopi panas.

JavaImagee 7901576_20150527044401 kopi-priangan

Perkembangan  kopi  di Jawa mengalami peningkatan yang cukup signifikan antara tahun 1830 – 1834, produksi kopi Arabika mencapai 26.600 ton, dan 30 tahun kemudian meningkat menjadi 79.600 ton dan puncaknya tahun 1880 -1884 mencapai 94.400 ton 5). Selama 1 3/4 abad kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Akan tetapi, kemudian perkembangan budidaya kopi Arabika di Indonesia mengalami kemunduran hebat disebabkan serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix), yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.  Akibatnya kopi Arabika yang dapat bertahan hidup hanya yang berada pada ketinggian 1000 m dari permukaan laut.  Sisa-sisa tanaman kopi Arabika ini masih dapat dijumpai di  dataran tinggi ijen (Jawa Timur), Tanah Tinggi Toraja (Sulawesi Selatan), lereng bagian atas Bukit Barisan (Sumatera) seperti Mandailing, Lintong dan Sidikalang di Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di Nangroe Aceh Darussalam.

6. Jenis Kopi di Indonesia (Arabica, Liberica dan Robusta)

Guna mengatasi serangan hama karat daun, kemudian Pemerintah Belanda mendatangkan Kopi Liberika (Coffea Liberica) ke Indonesia pada tahun 1875. Namun ternyata jenis ini pun juga mudah diserang penyakit karat daun dan kurang bisa diterima di pasar karena rasanya yang terlalu asam. Sisa tanaman Liberica saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan.

Usaha selanjutnya dari Pemerintah Belanda adalah dengan mendatangkan kopi jenis Robusta (Coffea Canephora) tahun 1900, yang ternyata lebih tahan terhadap penyakit karat daun dan hanya memerlukan syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan, sementara itu produksinya malah jauh lebih tinggi. oleh karena itu, kopi Robusta menjadi cepat berkembang menggantikan jenis Arabika, khususnya di daerah – daerah dengan ketinggian di bawah 1000 m dari permukaan laut dan mulai menyebar ke seluruh daerah baik di Jawa, Sumatera maupun ke Indonesia bagian timur.

full-bean

Semenjak Belanda meninggalkan Indonesia, perkebunan kopi rakyat terus tumbuh dan berkembang, sedangkan perkebunan swasta hanya bertahan di Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian kecil di Sumatera, dan perkebunan negara (PTPN) hanya tinggal di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Demikian 6 cerita tentang kopi enemers, salam enemkabeh Smile

 

* VOC : Vereenigde Oost-Indische Compagnie, biasa disebut “Kumpeni” oleh penduduk Indonesia.

Referensi:

1) http://www.nationalgeographic.com/coffee/map.html (diakses tanggal 11 September 2015)

2) https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_coffee (diakses tanggal 11 September 2015)

3) http://www.redlandsdailyfacts.com/general-news/20130424/history-of-coffee-linked-to-islam (diakses tanggal 11 September 2015)

4) https://en.wikipedia.org/wiki/Pope_Clement_VIII#Coffee (diakses tanggal 12 September 2015)

5) Yahmadi, M., 2007, “Rangkaian Perkembangan dan Permasalahan Budidaya dan Pengolahan Kopi di Indonesia”, AEKI Jawa Timur, PT. Bina Ilmu Offset, Jawa Timur

No comments:

Post a Comment